Antara Hobi Berburu dan Pekerjaan

FullSizeRender_1

Segudang kesibukan dan jabatan menempel pada diri Kendrariadi Suhanda. Selain Deputi Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia, pria berkacamata ini juga menjabat sebagai Ketua Umum Indonesia Pharma Materials Management Club dan Direktur Komunikasi International Society for Pharmaceutical Engineering Indonesia. Itu belum termasuk jabatannya di Persatuan Menembak Indonesia selaku senior member.

Padahal, pekerjaannya di kantor juga tak kalah padat. Ayah tiga anak ini harus ikut banting tulang mengurusi bisnis perusahaan obat generik lima besar dunia untuk kawasan Asia-Pasifik itu.

Untuk pekerjaan di kantornya, Kendrariadi berangkat pagi dan pulang bisa larut malam. Selain disibukkan dengan meeting, ia harus bertemu dengan relasi dan terkadang diselingi perjalanan dinas di dalam atau luar negeri. Toh, ia merasa happy.

”Dinamika orang bekerja adalah me-manage kesibukan itu sendiri,” katanya.

menikmati medan perburuan di Afrika.

Menikmati medan perburuan di Afrika.

Agar tetap bugar dan berkonsentrasi, ia menyetir mobil sendiri ke kantor. Ini untuk melatih kesigapannya. Sedangkan pada Sabtu dan Minggu, ia menyempatkan diri jalan pagi selama satu setengah jam bersama tetangga sekompleks rumahnya. Selain jalan pagi, ia pun menekuni tenis dan senam aerobik di berbagai tempat bersama rekan sekantor. Biasanya juga sambil menjalin lobi dengan rekan seminat atau pelanggan.

Namun aktivitas yang paling digemarinya adalah menembak dan berburu. Berburu dilakukannya dua bulan sekali dan diambil waktu yang tidak mengganggu pekerjaan.

”Berburu butuh kesiapan fisik karena tidak tidur semalaman,” ujar Kendrariadi.

Untuk itu, selain istirahat di pagi hari, ia mengonsumsi makanan bergizi. Ia juga rajin meminum vitamin C dosis tinggi. Tak lupa pula menyantap lalapan sayuran.

Hobi & Pekerjaan

“Berburu itu pekerjaan saya. Bekerja di farmasi, itu hobi,” kelakar Kendrariadi, Wakil Sekjen GP Farmasi. Kendra memang gemar berburu. Di rumahnya, di kawasan Bogor, Jawa Barat, terpajang beberapa ‘tropi’ hasil berburu, mulai kepala rusa sampai taring babi hutan dari pedalaman Kalimantan.

Adalah ikatan pertemanan yang membuatnya sangat menyukai berburu. “Melalui berburu, komitmen persahabatan erat sekali. Tidak pandang kedudukan dan pangkat,  kita sederajat, bahkan bisa saling mengolok,” ujar Kendrariadi.

Mengasah ketajaman membidik dan mencoba senjata melalui zeroing sebelum perburuan dimulai.

Mengasah ketajaman membidik dan mencoba senjata melalui zeroing sebelum perburuan dimulai.

Di kalangan para penghobi berburu, pria ini sudah dianggap pada level sebagai senior hunter. Maklum, petualangan berburunya tak hnay di dalam negeri, namun juga sampai ke medan perburuan beberapa negara. Mulai dari beburu di Afrika, Amerika, hingga Latvia (negara di kawasan Baltik).

Menurutnya, dengan berburu, kita terlepas dari segala macam aturan. Berbeda dengan di bidang farmasi, yang sangat ketat dengan aturan. Saat berburu, aturan yang ketat hanya saat menggunakan senjata. Dalam perkawanan, tidak ada aturan yang membatasi.

Saat di Afrika, ia berburu wildebeest. ”Kalau kita lihat di TV, wildebeest bergerak dalam kelompok dan gampang ditembak. Ternyata tidak semudah itu.”

Dia bersama rombongan dan seorang pemandu berpengalaman harus jalan kaki, tidak boleh naik mobil. Sementara, kalau mencium aroma tubuh manusia dalam jarak yang jauh, binatang ini akan lari dari lapangan satu ke lapangan lain.

Hasil zeroing.

Hasil zeroing.

Setelah tiga jam berjalan di bawah teriknya matahari Afrika, pemandu yang merasa kelelahan bertanya pada Kendrariadi, “Anda biasa menembak jarak jauh?” Itu karena binatang buruan sudah dalam jarak tembak 250 meter. Kendrariadu pun menyanggupi. dipinjami senjata baru RIGBY 416 yang cukup kuat. Untung badannya besar, jadi kuat.

Terlihat ada tujuh binatang buruan, yang paling besar adalah pimpinannya. “Tembak yang paling besar,” kata pemandu.

Kendra dalam posisinya yang kurang menguntungkan.  Tapi, begitu ditembak, binatang itu mental dan jatuh. “Kami dekati. Sata takut, jangan-jangan binatang itu belum mati, kan bisa berbahaya. Untung kena jantungnya dan langsung mati,” ujarnya.

Clean shot! Begitu istilah di kalangan pemburu, saat sekali bidik, langsung mengenai target buruan. Kini, di tengah kesibukannya berburu dan bekerja, pria penggemar minum kopi ini siap-siap untuk menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) GP Farmasi di Bandung, Jawa Barat. (Abdul Kholis)

GALERI FOTO

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>