Bagi para pemburu yang pernah berburu di Afrika, tentu akan mengenal binatang yang satu ini, Springhares. Bentuk dan ukurannya seperti kelinci. Hanya saja, kakinya menyerupai kanguru kecil dari Australia. Binatang ini hidup di lubang-lubang di padang perburuan Afrika. Dengan kaki belakang dan depannya yang relatif panjang, binatang ini dapat menggali lubang di tanah dengan cepat dan dalam. Di lubang inilah Springhares dapat menghindar dari kejaran binatang predator.

Mengapa binatang ini ditakuti di Afrika? Tentunya yang takut adalah para pemilik lahan berburu. Di padang perburuan, para pemilik sudah berinvestasi bermacam binatang buruan seperti, Impala, Blesbugs, Kudu, Oryx, Hartebeest, Wildebeest dan lainnya. Binatang yang terbiasa berlari di padang luas dapat terperosok dan patah kakinya di lubang yang dibuat oleh Springhares, kemudian mati karena tidak bisa keluar lubang, tidak makan minum, lalu mati atau dimakan predator. Tentu hal ini sangat merugikan pemilik lahan perburuan!

Untuk itulah, aturan berburu di Afrika diharuskan berburu di siang hari, dikecualikan untuk binatang ini. Namun, tidaklah mudah untuk memburu binatang mungil ini.  Diperlukan “skill” tersendiri bisa membidik Springhares. Binatang malam ini teramat gisit di malam hari, tidak pernah diam dan selalu melompat ke segala arah .

Penulis pernah mendapat kesempatan untuk berburu Springhares dengan pemilik lahan, Mr. Walther sewaktu berburu di Afrika Selatan beberapa waktu yang lalu. Saya dan Walther menggunakan mobil Landrover kap terbuka, yang dilengkapi lampu belor terpasang di atas mobil. Walther tak cuma berburu, tetapi dia juga merangkap sebagai sopir. Terasa sangat efisien dibandingkan dengan berburu malam di Indonesia, ada sopir dan juga ada pemegang lampu belor.


"Saya berhasil menembak satu ekor Springhares waktu berburu diu Afrika".

Senjata yang digunakan adalah kaliber 22, sehingga tepat untuk berburu binatang sebesar kelinci itu. Melihat gesitnya Springhare yang selalu melompat, penulis mendapat kesulitan untuk menembaknya. Sampai akhirnya Walther memberi “advice” kepada penulis, yaitu mengarahkan senjata dengan mengikuti lompatan springhares dan menembaknya pada waktu springhares “mendarat”.
 

Springhares, seukuran keilinci tetapi memiliki kaki seperti kanguru.

Kami melakukan perburuan Springhares sekitar tiga jam. Sangat menyenangkan, karena Springhares yang terkena sorot lampu belor, walaupun selalu melompat, cenderung mendatangi arah lampu. Dan, pada jarak sekitar 50 meter kami baru dapat menembaknya . Malam itu Walther berhasil menembak tiga ekor Springhares dan penulis hanya seekor. Kelihatannya perlu membiasakan diri menembak binatang ini.
 
Springhares juga binatang yang disenangi pemburu Afrika untuk diawetkan, dikirim ke taxidermy. Walaupun binatang ini kecil, namun biaya taxidermy Springhares tidak lebih murah dari taxidermy untuk kepala Impala atau lainnya. Mungkin karena kesulitan mendapatkannya dan juga dapat dengan mudah ditaruh disudut ruangan sebagai hiasan.  Banyak hal yang unik dan menyenangkan kalau kita berburu di Afrika.  (Kendrariadi Suhanda, R.Senior Hunter Puma Group)