Berburu Babi Singa (Bagian 1)


 Para hunter dan kru berburu sesampai di basecamp di kawasan Senakin.

Pesawat Boeing 737 Lion Air mendarat mulus di Bandara Internasional Syamsuddin Noor, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tepat pada pukul 11.30 waktu setempat. Beberapa saat kemudian, empat orang berbaju berbagde Perbakin menuruni tangga dari pintu belakang pesawat. Mereka adalah senior hunter Kendrariadi Suhanda, hunter Choky, hunter John Naftali, dan Hunter Frans Karmadi.


Hari itu, 21 April 2011, mereka akan menikmati hobi berburu di kawasan Senakin, Kabupaten Tanah Bumbu, masih dalam wilayah Kalimantan Selatan. Seperti biasa, hunter pemandu para hunter dari Jakarta ini adalah hunter Iwan dari Perbakin Kalimantan Selatan. Di kalangan hunter dari Jakarta, sosok hunter ini sangat familiar. Ia cukup banyak berjasa dalam membantu kelancaran perjalanan perburuan di sana. Hunter Iwan tak cuma memandu perjalanan perburuan selama di Senakin, tetapi juga banyak membantu dalam hal menyiapkan senjata, amunisi, dan pencarian basecamp di area medan perburuan, hingga rela menjadi bagian dari kru berburu. “Kawan kita yang satu ini luar biasa,” kata senior hunter Kendrariadi mengomentarinya.



 Rehat sejenak di salah satu warung Kopi di Batu Licin, sembari mengatur strategi perburuan 


Setelah rehat makan siang, rombongan langsung menuju ke arah Senakin, melalui Kota Batu Licin. Sebuah mobil hardtop dan Kijang Inova melaju beriringan menuju lokasi. Untuk sampai ke kota ini, para hunter harus menempuh 10 jam lebih perjalanan menggunakan mobil. Jarak antara Kota Banjarmasin dan Batu Licin  sekitar 300 km. Sementara untuik menuju kawasan Senakin, jarak tempuhnya mencapai 60 km lagi.


Jam sembilan malam, rombongan sampai di Kota Batu Licin. Mereka memilih sebuah warung kopi dengan parkiran luas, untuk memulai perburuan. Di warung milik warga ini, perbekalan perburuan disiapkan. Memasang ranggon, menyiapkan senjata dan peluru, hingga menyiapkan perbekalan makanan kecil. Mobil kijang Inova dititipkan ke pemilik warung, karena tidak mungkin melalui medan yang berat. Seluruh hunter, termasuk para kru, berada dalam satu mobil hardtop milik hunter Iwan. Total “penumpang” hardtop ini jadi 11 orang. Dengan beban sebanyak itu, mobil ini harus melintasi medan jalan yang parah: berlubang, berlumpur, dan bebatuan keras sepanjang perjalanan. Sungguh , sungguh ini uji ketangguhan mobil berburu di medan nyata.

Malam terus merangkak. Derik serangga hutan terdengar saling bersautan. Tepat pukul 10 malam, mobil hardtop bergerak menuju lokasi. Meski kawasan Senakin dikenal sebagai gudangnya Babi Singa, namun malam itu keberuntungan belum berpihak kepada tim hunter ini. Sesampai di basecamp, pukul 04.00, tak satupun binatang buruan didapat. “Ini romantikanya berburu. Kadang dapat, kadang tidak. Yang penting, kita bisa menikmati,” ujar hunter Choky. Hunter asal Bogor, jawa Barat, ini sudah dua kali berburu di kawasan Senakin, namun baru kali ini ia tidak melihat satu pun Babi Singa sepanjang perjalanan menuju basecamp.

Apakah Babi Singa di sini sudah mulai punah? Ternyata tidak. Di sisa waktu menjelang pagi, setelah menurunkan sebgain beban angkutan, tim hunter ini kembali menyusuri sekitar perkebunan kelapa sawit. Hasilnya, seekor Babi Singa berat kira-kira 100 kg lebih berhasil didapat. “Mudah-mudahan, nanti malam kita bisa dapat banyak,” ujar hunter Iwan menyemangati hunter lainnya. (A.Kholis)