Setelah absen sekian lama, Puma Group Perbakin DKI Jaya kembali beraksi di medan perburuan. Kali ini, meda yang dipilih adalah Hutan Ipuh, Bengkulu. Perburuan kali ini juga bersamaan dengan syuting program acara Berburu Trans 7.

Sebenarnya, perburuan bersama teman-teman dari stasiun TV sudah sering kami lakukan. Di antaranya, bersama Indosiar, TV One, maupun Trans TV . Berburu dengan kru Trans 7 pun sudah sering kami lakukan sebelumnya. Kami pernah berburu di Bengkulu, Jambi,  Batulicin, Senakin , Pulau Laut (Kalimantan Selatan) dalam perburuan Babi Singa.

Faktor keberuntungan memang merupakan bagian dari keberhasilan berburu. Demikian juga perburuan kali ini di Hutan Ipuh, Bengkulu Utara, yang dilakukan awal Juni lalu.


















Seperti biasa, awal perburuan dimuali dari koordinasi di basecamp Puma Group Perbakin DKI Jaya di kawanan Ipuh. Kami melakukan briefing dan persiapan sebelum berangkat ke medan perburuan. Disepakati, kami akan melakukan perburuan awal pada sore hari. Istilah kami adalah “ngintip atau “nyanggong”.

Dipilih sore hari, juga atas pertimbangan kru dari Trans 7 yang berkepntingan mengambil gambar suasana medan perburuan dengan sunset matahari jelang terbenam. Suasana matahari jelang menuju peraduan memang pantang dilewatkan oleh kami para pemburu. 

Kami kali ini ditemani para kru Trans 7, di antaranya Della (host acara Berburu), Kotot dan Jacualine (koordinator lapangan), serta juru kamera.  Kami memutuskan untuk bergerak mulai jam 2 siang. Kami menyusuri hutan sawit menuju target lokasi yaitu Airsule. Menurut penuturan pada kru Puma Group kami yang ada  di bengkulu, lokasi ini dikenal banyak babi hutannya. 

Perjalanan ke Airsule memakan waktu sekitar dua jam.  Cuaca yang cerah sangat mendukung perjalanan kami. Sesampai di lokasi, kami tidak turun dari mobil berburu. Karena kami tahu bahwa babi hutan sudah terbiasa dengan suara mobil perkebunan sawit. Kami memantau dari atas mobil yang sudah di-setting sebagai mobil berburu.  Kami terus menyelusuri kebun sawit yang berbatasan dengan hutan.

Benar saja, sore itu keberuntungan berpihak pada kami. Kami melihat segerombolan babi hutan yang sedang berjalan keluar dari hutan. Dan, saat itu penulis dalam posisi siap tembak. Dalam hitungan beberapa detik, lentusan laras CZ 308 full stock terdengar. Timah panas pun menghujam tepat di jantung salah satu babi hutan. Clean shot!

Ketegangan mulai menyrgap kami. Kami tidak segera mengambil target buruan yang, karena kami yakin masih ada babi hutan yang akan melintas. Dan, perkiraan kami terbukti, tak jauh dari mobil kami terlihat babi hutan yang melintas di tengah jalan. Jaraknya dekat sekali:  kurang dari 30 meter. Tentu saja kesempatan itu dimanfaatkan penulis untuk menembaknya. Dor! Target kedua langsung roboh dan terkena jantungnya. Sekali lagi clean shot!

Kami turun dari kendaraan untuk mengumpulkan kedua babi hutan. Dan, seperti biasa, hasil bidikan itu diabadikan oleh kru Trans 7. Kegembiraan, senda gurau, sambil berfoto bersama merupakan bagian “indahnya” berburu.

Usai menaikkan dua target ke atas garda mobil, kami melanjutkan perburuan. Hari sudah mulai gelap. Matahari menuju perduan dan hanya meninggalkan warna kemerahan di langit nan indah. 

Mobil berburu kami kembali melaju. Belum lama menyusuri pinggiran kebun sawit, dari kejauhan terlihat seekor babi yang sedang berkubang. Jaraknya sekitar 150 meter dan berada di bawah bukit.

















Penulis bersiap untuk membidik. Namun, kali ini tidak perlu buru-buru, karena jarak yang cukup jauh dan arah angin yang berlawanan tidak mengganggu keasyikan babi hutan itu berkubang!

Setelah dirasa cukup aman jaraknya, senjata CZ 308 full stock  pun kembali menyalak. Sekali bidik, target ketiga itu kembali roboh. Dari atas mobil, kami melihat babi hutan berguling-guling di lumpur kubangan.

Karena suasana saat itu sudah mulai gelap, dua kru berburu kami menyalakan lampu blor untuk mengevakuasi babi hutan itu .  Mereka menuruni tebing untuk mengambil hasil buruan.

Tak lama kemudian, kami mendengar salah seorang kru kami berteriak, “Kita dapat Babi Nangoy besar!”  Bagi kami ini suatu yang sangat mengejutkan sekaligus menggembirakan. Sebab, biasanya Babi Nangoy mulai turun dari atas bukit bulan Agustus, bersamaan dengan musim kemarau. Namun saat ini (Juni) sudah berkeliaran. We are lucky! 

Ini juga sebagai keberuntungan bagi kru Trans 7. Menurut mereka, baru pertama kali meliput perburuan Babi Nangoy di hutan Sumatera!

Sore itu kami berhasil menembak tiga ekor babi hutan, dan salh satunya Babi Nangoy.  Kami kembali ke basecamp untuk istirahat dan makan malam sambil bersiap-siap untuk perburuan malam hari. Unforgettable hunting experience! (Kendrariadi, Senior Hunter PUMA Group Perbakin DKI Jaya)