Airport Yohannesburg South Africa masih terlihat sibuk meski jarum jam sudah menunjuk pukul 10 malam. Meski sempat memejamkan mata selama di pesawat, namun rasa lelah ini masih belum juga hilang. Maklum, penerbangan yang hampir selama 10 jam dari Amsterdam sungguh melelahkan.

Sesampai di bandara internasional itu, saya disambut oleh rekan pemburu dari Indonesia, Lukkas Anggono yang sudah lebih dulu tiba. Ia juga ditemani Francois, professional hunter dari Savuti Safari dan Walter, pemilik Mothopo Game Lodge Farm tempat dimana kami akan berburu saat itu.

Tanpa terlalu banyak basa-basi, dengan dua mobil kami langsung berangkat ke Mothopo Farm yang berjarak sekitar 230 km kearah utara kota Yohannesburg. Tepatnya di daerah Alma , dengan waktu tempuh selama 2,5 jam.

Tiba di base camp Mothopo, jarum jam di tangan saya sudah menunjukkan angka 1 pagi. Mata kami benar-benar tak mampu lagi menahan rasa kantuk. Kami pun segera beristirahat, menyimpan energi untuk aktivitas esok pagi.

Mata saya kembali terbuka, ketika secercah cahaya mentari sudah menembus kaca jendela base camp. Jarum jam di dinding menunjukan angka 8 pagi. Demikian dengan partner saya, Lukas, sudah bangun lebih awal. Usai bebenah diri dan sarapan ala Afrika, kami segera menuju ke Mothopo Game Lodge Farm.

Di sana kami disambut hangat oleh penjaga farm itu, Etienne dan Alwyn. Belakangan, kami baru tahu bahwa mereka bukan sekadar penjaga ladang perburuan di sini, tetapi memiliki keahlian khusus memasak hasil buruan para hunter yang datang ke sini.
Sesampai di sini kami tidak langsung “bertempur” dengan binatang buruan. Istirahat sejenak, sambil menikmati indahnya padang ilalang yang ditimpa sinar kuni mentari.

Saya dan Lukkas masing-masing diberi kamar dengan desain arsitektur gaya Afrika. Sungguh indah dan terasakan nuansa Afrika nya . Pagi hari matahari menerpa padang perburuan di hadapan basecamp Mothopo. Keindahan alam ini akan mengingatkan kita akan keindahan alam di cerita “little house in prairie” atau Bonanza.

Dari jauh kami sudah melihat berbagai jenis binatang sedang merumput. Impala dan blesbuck mendominasi padang rumput itu. Di sana juga tampak Oryx, Kudu, dan segerombolan Blue Wildebeest .

BLUE WILDEBEEST & KUDU

Di padang seluas 500 hektar inilah awal perburuan kami hari itu. Setelah menikmati snack pagi, kami ditemani Farncois dan Walter memulai perburuan dengan berjalan kaki. Senjata, amunisi, dan perlengkapan lain segera disiapkan oleh penjaga farm.

Saya dan Lukas sesekali mencoba meluruskan pandangan di lensa teropong senjata. Maklum, kami belum pernah menggunakan senjata milik mereka ini. Ini memnag aturan yang harus kami patuhi. Meskipun kami memliki senjata di rumah, namun kami tidak diperkenankan membawa sendiri. Semuanya sudah tersedia di base camp Mothopo.

Saya menyewa senjata Rigby 416 dengan peluru 400 gr Hornady Round Nose, sementara Lukkas dipinjami Winchester 338 magnum scope Leopold dengan peluru 250 gr Hornady Round Nose.

Target kami hari ini adalah Blue Wildebeest dan Kudu. Dua jenis binatang ini merupakan idaman para pemburu di berbagai belahan dunia. Di samping keindahannya juga memerlukan teknik berburu tersendiri dan tentunya keberuntungan atau luck!

Hampir dua jam, kami berjalan kaki, berkelilingan dari padang rumput yang satu ke lainnya. Namun, maskot buruan yang kami cari belum juga terlihat. Kucuran peluh membasahi kami. Meski cukup melelahkan, namun semangat kami untuk berburu tak pernah surut. Berburu memang sudah menjadi hobi yang mendarah daging bagi kami.

Setelah dua jam lebih menjelajah, kami sepakat untuk membelah rombongan menjadi dua. Saya dengan Francois dan Lukkas dengan Walter. Kami pun berpencar segera.

Beberapa menit, sejak kami berpencar, dari jauh saya sudah melihat segerombolan Blue Wildebeest. Ada tujuh ekor dan terlihat seekor yang lebih besar, jantan !

Namun begitu didekati, mereka serempak lari. Kami coba lagi dari arah angin yang menguntungkan dan memungkinkan binatang ini tidak mencium kedatangan kita. Dalam berburu di padang seperti Afrika ini, arah hembusan angin memang menjadi hal yang kami perhitungkan. Bau maunisia mudah terbawa angin sehingga mudah dicium oleh binatang.

Setelah berulang kali kami mencoba, akhirnya saya dan Francois sampai di balik pepohonan yang cukup rindang. Dari sini, pada jarak sekitar 200 meter, kami dapat melihat gerombolan Blue Wildebeest tadi. Francois berbisik, apa saya sudah pada jarak kemampuan menembak? Sambil mengokang Rigby 416, dalam hati saya berguman ; siapa takut!

Francois dengan teropongnya memberi arahan agar say menembak yang paling kanan, Blue Wildebeest jantan dengan tanduk bagus sekali untuk trophy.

Saya segera mengarahkan senjata ke sasaran. Beberapa saat saya cukup tegang, dan ini bias dirasakan saat berburu. Dalam hitungan detik.....dor!
Terlihat binatang besar itu terlempar dengan kaki di atas dan langsung ambruk ke tanah. Francois langsung memberi ucapan selamat. Perlahan kami mendekat dengan senjata siap tembak, kalau-kalau binatang liar itu masih hidup dan menyerang kami.

Ternyata Rigby dengan kaliber 416 ini sangat ampuh. Dengan sasaran tepat jantung, clean shoot, dari jarang tembak 200 meter lebih, binatang buruan ambruk, mati dan tak bergerak lagi. 

LARI, LALU TEMBAK LAGI

Seperti biasa, momen langka ini kami abadikan dengan jepretan kamera digital. Setelah acara foto-foto, kami kembali ke base camp untuk makan siang sambil merencanakan perburuan selanjutnya.

Usai makan siang, kami memutuskan ke ”farm” lainnya yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan kaki. Menurut Walter, kawannya si pemilik Middelboom Fontein Farm di Vaalwater, di sini terdapat binatang buruan Kudu yang besarnya sudah masuk hitungan ”record”.

Kami pun memulai perburuan di farm yang tampaknya lebih tandus, banyak bekas kayu, pepohonan terbakar. Ternyata berburu Kudu tidak semudah yang kami kira sebelumnya. Binatang ini sangat peka, diperlukan kecepatan menembak. Biasanya, Kudu ditemukan tidak di tempat terbuka, tetapi di balik pepohonan, sehingga kecepatan mata kita melibat binatanag buruan sangat dibutuhkan.

Setelah beberapa kali melihat dan tidak sempat menembak,  kira-kira jam 5 sore , saya melihat Kudu besar. Binatang  ini tampak sendirian dan berdiri di balik pepohonan.

Dengan sigap senjata saya arahkan, dan....dooor! Terlihat Kudu itu masih lari, walau terlihat agak limbung , namun saya yakin peluru Rigby 416 saya sudah mengenai sasaran.

Namun karena pengenaan tidak tepat di jantung, Kudu masih sempat lari walau setelah sekitar 200 meter terjatuh dibawah sebuah pohon , untuk tidak membuat binatang menderita, Walter menembaknya lagi dan Francois mematikan dengan tembakan jarak dekat di kepala.  Kuat sekali binatang liar ini.

Kudu ini besar sekali. Setelah diukur panjang tanduknya hampir mencapai 54 inchi, jadi sudah masuk dalam katagori record, walau record terpanjang masih 57 inchi.

Kami pun merayakan keberhasilan ini dengan acara foto-foto yang berlangsung seru. Bagi saya, ini merupakan kebanggaan tersendiri karena baru pertama kali menembak binatang legendaris Afrika Selatan tersebut.

PADUAN KELINCI & KANGURU

Hari sudah sore, kami kembali ke base camp Mothopo untuk istirahat dan makan malam dengan hidangan ” Blue Wildebeest Steak ”. Kami menikmatinya di depan perapian ala Afrika, sambil bertukar pengalaman berburu di Afrika dan Indonesia.

Hari kedua, dengan irama kurang lebih sama dengan hari pertama, kami kembali menjmah Middelboom Fontein Farm. Di sini, kawan saya, Lukkas, berhasil menembak Kudu yang cukup besar dengan panjang tanduk 48 inchi.

Pada malam harinya saya diajak Francois dan Walter berburu binatang Spring Hare. Spring hare merupakan binatang malam dengan muka dan kaki depan seperti kelinci, namun kaki belakang seperti kanguru kecil.

Berburu dengan spotlight atau di Indonesia kita kenal sebagai lampu blour , dan senjata kaliber 22, terasa sangat mengasyikan. Spring Hare selalu bergerak lincah, melompat dan hanya ‘memberikan’ waktu untuk pemburu dalam hitungan detik untuk ditembak.

Kegesitan binatang ini membuat saya juga harus lebih gesit dalam membidik. Malam itu kami berhasil menembak 6 ekor, dan saya sendiri hanya berhasil menembak 1 ekor. Belum terbiasa.

Sejatinya, berburu menggunakan lampu blour tidak diijinkan di Afrika Selatan. Namun pengecualian diperbolehkan hanya untuk perburuan binatang malam seperti Spring Hare yang merupakan hama perusak.

Spring Hare selalu membuat lubang-lubang tempat mereka tinggal dan sembunyi bila diserang binatang lainnya. Akibatnya, lubang-lubang tersebut membahayakan binatang besar seperti Impala, Kudu, Besback dan lainnya terperosok, patah kakinya, lalu mati karena tidak dapat keluar dan tidak makan.

Hari ketiga, merupakan hari paling menantang bagi saya, karena binatang yang menjadi target buruan adalah Warthog. Sejenis babi hutan yang memiliki taring atas yang besar sekali dan buruk muka.

Tidak seperti yang saya kira, binatang ini rupanya sulit untuk didekati. Di samping sangat peka, juga selalu bergerak. Sejak pagi kami sudah ada di farm tersebut, karena menurut informasi masih banyak ditemukan Warthog di sana.

Kami berjalan di antara semak-semak, sampai akhirnya terlihat dari kejauhan dua ekor Warthog, besar dan kecil. Setelah memperhitungkan arah angin yang tepat dan dari jarak kurang lebih 100 meter, senapan 7x57 Mauser Musgrave dengan 170 gr PMP factory Ammo milik Walter, saya arahkan ke Warthog yang besar.

Saya mempunyai cukup waktu untuk membidik, karena Warthog terlihat tenang dan tampak tidak tahu keberadaan kami. Warthog masih sempat lari, setelah peluru bersarang di badannya. Dengan sigap kami ikuti jejaknya. Sampai pada sekitar 50 meter ditemukan darah dan usus yang sudah keluar sampai akhirnya masuk lubang persembunyiannya.

Tampaknya tembakan masih agak ke bawah mengenai bagian perut, karena Warthog dikenal sangat kuat sehingga mampu lari sampai lubang dengan ceceran darah di mulut lubang rumah mereka.

IT IS NOT “COME EASY”

Sore hari kami kembali ke farm Mothopo. Kali ini arahan target saya adalah Impala. Binatang yang larinya cepat sekali dan sangat peka akan kehadiran manusia.

Setelah berputar-putar dengan kendaraan berburu, mencari Impala dengan tanduk yang baik untuk trophy, akhirnya dari jarak sekitar 100 tembakan saya menjatuhkan Impala jantan dengan tanduk yang indah.

Tiga hari berburu di Afrika Selatan memang sangatlah padat dan cukup melelahkan. Namun bagi kami pemburu Indonesia, ini merupakan tambahan wawasan, pengalaman, bagaimana cara atau kebiasaan berburu di Afrika Selatan.
It is not ”Come Easy ”, tidak semudah apa yang kami perkirakan. Berburu di Afrika Selatan mempunyai tantangan tersendiri dan tentunya “luck” (keberuntungan)  juga merupakan faktor penentu.

Kebanggaan kami karena berhasil menembak lima binatang yang tidak kami temukan di Indonesia, serta setiap binatang mempunyai karateristik berburu yang berbeda.

Kelima binatang buruan itu, Kudu, Blue Wildebeest, Impala, Warthog dan Spring Hare , sekarang masih dititipkan di Taxidermy (semacam tempat pengawetan binatang hasil buruan) setempat sebelum dibawa ke Indonesia sebagai kenang-kenangan berburu di Afrika Selatan.
Kendrariadi (Senior Hunter Puma Group)