Bagi Anda yang sudah terbiasa menikmati hobi berburu, tentu sudah mengenal habitat dan spesies babi hutan di berbagai daerah perburuan di Indonesia. Pernah berburu ke hutan di wilayah Sumatera? Di pulau ini mempunyai dua spesies babi hutan yang menarik untuk diketahui. Yang pertama adalah babi hutan biasa (Sus scrofa). Binatang ini merupakan binatang imigran dari Benua Eropa-Asia dimana dulunya Sumatera merupakan bagian dari benua itu. Karena menjadi hama pertanian, binatang ini ditakuti sekligus dibenci oleh para petani, kecuali bagi suku seperti Orang Rimba di Jambi dan Sumatera Selatan. Bagi mereka, babi hutan menjadi sumber daging yang penting dan lebih mudah ditangkap ketika menyerang ladang mereka.

Yang kedua adalah babi hutan yang terkenal dengan sebutan Nangoi atau babi berjanggut (Sus barbatus). Binatang ini merupakan binatang endemik Sumatera atau Asia Tenggara. Babi hutan biasa lebih menyukai hutan sekunder dan makanan dari ladang petani, sedangkan Babi Berjanggut lebih sesuai hidup di hutan primer dan tidak terlalu dianggap sebagai hama.

Babi Nangoi ini adalah sejenis babi yang sangat buas dan  memiliki bobot lebih dari babi hutan biasa. Umumnya, di atas 100 kg untuk ukuran babi Nangoi dewasa. Menurut penduduk di sekitarnya, jenis babi ini hanya turun dari Gunung Kerinci mulai bulan Agustus dan berakhir kembali lagi ke puncak gunung pada Desember. Kebiasaan ini diduga karena pada saat tersebut, di atas gunung mereka kekurangan makanan. Mereka turun gunung untuk cari makan dan “bersosialisasi” dengan babi hutan jenis lainnya.

Kebuasan babi Nangoi bukan hanya cerita belaka. Pernah, suatu ketika tim hunter dari Puma Group melakukan perburuan di kawasan hutan dekat kaki Gunung Kerinci Bengkulu. Budi Hasin, salah satu senior hunter dari Puma Group mendapatkan satu ekor babi biasa. Pemburu ini sengaja tidak mengakut binatang tersebut, karena bull bar mobilnya sudah penuh dengan Nangoi yang berhasil ia tembak.

Terpaksa ia meninggalkan sementara binatang tersebut, dengan harapan bisa ia ambil kembali sepulang menyisir bagian lain hutan tersebut. Ternyata, apa yang terjadi? Begitu rombongan pemburu ini melintas kembali ke tempat ditinggalkannya babi hutan tadi tiga jam berikutnya, hewan tersebut sudah tinggal separo. Tubuhnya terkoyak habis.

Pemburu dan rombongannya yakin betul bahwa hasil buruannya itu baru saja dimakan oleh babi Nangoi. Kalau dimakan harimau, pasti babi tersebut akan diseret menjauh dari lokasi tergeletaknya binatang tersebut. Keyakinan pemburu dan krunya itu makin kuat, ketika ditanyakan langsung pada penduduk sekitar yang pernah melihat babi Nangoi menyantap sesamanya. Nangoi tidak mungkin menyeret mangsanya, sebab untuk membawa berat badannya saja sudah kesusahan, itulah kata mereka.

Lantaran sifatnya yang kanibal inilah yang menjadikan para pencari daging babi hutan di Sumatera ini kurang menyukai daging Nangoi. Menurut mereka, rasanya kurang enak bila dibandingkan dengan daging babi hutan biasa.

Migrasi Nangoi

Yang sangat menarik perhatian dari binatang ini adalah masa pembiakan dan migrasinya secara besar-besaran ketika musim buah-buahan tiba. Pada abad atau dasa warsa yang telah silam migrasi ini merupakan peristiwa tahunan. Bagi pemburu seperti Orang Rimba, migrasi Nangoi adalah kesempatan luar biasa untuk mendapatkan daging. 

Binatang ini dapat dengan mudah ditombak pada tempat mereka mendarat ketika menyeberangi. Ternyata dalam kepercayaan Orang Rimba, Nangoi mempunyai dewa khusus terkenal dengan sebutan Orang di Nangoi yang dapat dihubungi oleh dukun pada awal musim itu untuk mengirim banyak binatang ke hutan mereka.

Orang Akit dan Orang Utan di Riau dulu biasa hidup sebagai pemburu Nangoi yang sangat piawai. Pada abad yang lalu terkembangnya jumlah penduduk Cina di Singapura dan beberapa pemukiman di pantai timur Sumatera juga pulau-pulau di sekitarnya menciptakan pasaran besar bagi daging dan lemak babi.

Banyak binatang ditangkap hidup-hidup dengan cara mengapungkan tikar kajang pada permukaan sungai atau selat diantara pulau-pulau itu. Dikiranya tikar  itu pantai, babi akan berusaha mendarat si atasnya dan terperangkap ketika kakinya tembus.

Penangkapan dan pembunuhan secara besar-besaran terhadap Nangoi yang bermigrasi tidak ditemui lagi pada saat sekarang karena adanya kerusakan hebat dan fragmentasi lingkungan hutan. Namun demikian, hutan rawa pesisir antara sungai Siak dan Kampar tetap merupakan pusat penting bagi populasi Nangoi. Sebagian penduduk di kawasan Sg. Rawa hingga sekarang telah menggantungkan hidupnya dengan berburu Nangoi, terutama dengan cara memasang jerat di hutan. Agar tidak membusuk, babi hasil tangkapan dijual dalam keadaan hidup.

Pemanfaatan babi untuk tujuan komersial telah ada sejak dulu kala. Pada abad ke 18 seorang kapten  laut berkebangsaan Inggris menuliskan sebuah cerita tentang pelayaran di sebelah timur. Dalam ceritera itu digambarkan tentang batu guliga dari babi yang banyak didapatkan di Malaka dan dipercayai sangat berkhasiat sebagai obat. Batu yang mereka sebut sebagai Batu Siak itu berasal dari daerah dekat pesisir timur Sumatera dan mungkin telah dihasilkan oleh Orang Akit dan Orang Utan.

Tidak banyak diketahui sekarang tentang status pelestarian babi berewok di Sumatera. Kapasitas reproduksi mereka sangat tinggi sehingga bisa dengan cepat berkembang biak kembali asalkan banyak makanan tersedia. Meskipun demikian yang menjadi masalah utama dalam pelestarian binatang ini adalah kerusakan dan fragmentasi habitat yang terus saja berlangsung. (A. Kholis)